whatsapp-image-2018-04-17-at-8-00-18-pm

 Elman Boy tidak menyangka bahwa dia bakal di undang sebagai pembicara di acara International Islamic Healthcare Conference and Expo (IHEX) 2018. Apalagi, banyak pakar Kedokteran dari berbagai Fakultas Kedokteran ternama di Indonesia yang mendaftarkan diri sebagai pembicara di acara yang diselenggarakan Indonesia Islamic Medical Association (IIMA) dan Federation of Islamic Medical Association (FIMA) tersebut.

Pria 37 tahun yang tengah menjabat sebagai wakil dekan 3 Fakultas Kedokteran Muhammadiyah Sumatera Utara ini baru saja mengikuti Konferensi Pelayanan Kesehatan International bertajuk “Establish Shariah Hospital in the Region Through Consolidation of Potentials of The Ummah”.

Kongres tersebut di gelar di Jakarta Convention Center (JCC), pada 10-12 April yang lalu.

Elman bercerita, dia berkesempatan untuk mempresentasikan hasil risetnya di Konferensi tersebut ketika mendapat sokongan dari kampus tercintanya, UMSU dan Forum Organisasi Kedokteran Islam (FOKI) di Februari 2018.

IHEX 2018 merupakan konferensi pertama yang diselenggarakan gabungan dari berbagai organisasi Kedokteran dan rumah sakit di Indonesia yang terdiri dari FOKI, Majelis Upaya Kesehatan Islam Seluruh Indonesia (MUKISI) dan Islamic Medical Association and Network of Indonesia (IMANI).

Dosen di bagian ilmu Kedokteran komunitas/ilmu kesehatan masyarakat FK UMSU itu lantas mengajukan makalahnya ke komite ilmiah konferensi. “saya medapat surat undangan dari panitia awal Maret dan diminta untuk menyerahkan makalah, kurikulum vitae dan surat kesediaan sebagai pemakalah dan pertengahan Maret saya langsung menyerahkan semua dokumen tersebut”.

Di JCC, Elman merupakan satu-satunya dosen FK UMSU yang memperoleh kesempatan memaparkan makalahnya. Elman menyampaikan makalahnya dalam bentuk presentasi selama 20 menit yang memang diperuntukkan bagi pembicara yang diundang. Selanjutnya selama 20 menit sesi diskusi dengan peserta.

Dia melanjutkan, Konferensi itu dihadiri oleh perwakilan dari sekitar 45 negara. Antara lain Malaysia, Turki dan Korea.

Elman membawakan makalah yang berjudul The Role of Islamic Medical Colleges in Empowering Public Health, di mana risetnya adalah berupaya mengembangkan peran institusi pendidikan Kedokteran dan kesehatan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat.

Menurut Elman, saat ini hanya Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (FK UMSU) yang  secara sistematik mengembangkan program pendidikan Kedokteran berbasis komunitas dalam bentuk Program Keluarga Binaan Kesehatan (PKBK) masuk dalam kurikulum.

PKBK merupakan bentuk dukungan nyata FK UMSU terhadap kebijakan Pemerintah Republik Indonesia terhadap kesehatan masyarakat, antara lain Gerakan masyarakat Sehat (GERMAS).

Elman bersama-sama dengan dosen dan mahasiswa FK UMSU telah melaksanakan PKBK sejak tahun 2013 hingga saat ini. PKBK telah dan sedang dilaksanakan di dua kecamatan di Kota Medan, yaitu Kecamatan Medan Denai dan Medan Johor.

Di dalam sesi diskusi, terdapat pertanyaan menarik dari Universitas Yarsi terkait mekanisme monitoring dan evaluasi PKBK.

Rupanya, dekan Fakultas Kedokteran YARSI berniat untuk melakukan kegiatan serupa PKBK, oleh karena itu beliau ingin mengetahui lebih dalam.

Lebih lanjut, seorang delegasi dari Universitas Islam Indonesia (UII) menyampaikan bahwa kegiatan PKBK sangat menarik untuk dikembangkan karena menyentuh langsung kesehatan masyarakat terutama dari kalangan ekonomi lemah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *